Words of the Day · Kata-Kata Hari Ini · 今日の一言

Silakan pilih bahasa · 言語を選択してください · Please choose a language.

🇮🇩 KATA-KATA HARI INI · INDONESIA

IKUTLAH AKU

“Ikutlah Aku.” (Matius 9:9)

Hanya dua kata. Namun bagi Matius, dua kata ini mengubah seluruh arah hidupnya. Yesus datang kepadanya, melihatnya, dan mengundangnya. Matius kemudian bangkit dan mengikuti Dia.

Pusat perubahan hidup bukan pertama-tama kekuatan manusia, melainkan Kristus yang datang lebih dahulu. Rahmat datang lebih dahulu. Undangan datang lebih dahulu. Manusia kemudian menjawab dengan kebebasannya.

Kierkegaard mengingatkan bahwa manusia menjadi dirinya yang sejati ketika ia mengambil keputusan di hadapan Allah. Karl Rahner membantu kita melihat bahwa rahmat Allah mendahului jawaban manusia. Karena itu, panggilan Kristus selalu menjadi undangan untuk bangkit dan melangkah.

Mungkin kita masih duduk di “meja cukai” kita masing-masing: keterikatan, ketakutan, ambisi, masa lalu, atau kenyamanan. Namun Kristus tidak pertama-tama berkata bahwa kita harus menjadi sempurna. Ia berkata:

“Ikutlah Aku.”

Hari ini, dengarkanlah sabda itu. Bangkitlah. Ikutilah Dia.


KEGEMBIRAAN HATI

KATA-KATA HARI INI

INDONESIA · 日本語 · ENGLISH

Silakan pilih bahasa. Setiap bahasa berada dalam jendela tersendiri.

KEGEMBIRAAN HATI

Ketika hati menemukan sukacita dalam Sabda Tuhan

“Jauhkanlah dari padaku jalan dusta, dan anugerahkanlah kepadaku Taurat-Mu.”
“Aku telah memilih jalan kebenaran, dan hukum-hukum-Mu telah kuletakkan di hadapanku.”

— Mazmur 119:29–30

Hati manusia selalu mencari tempat untuk berdiam.

Ia dapat mencari kegembiraan dalam keberhasilan, dalam penghargaan, dalam harta, dalam hubungan dengan sesama, bahkan dalam berbagai hal yang membuat hidup terasa nyaman. Namun kegembiraan seperti itu dapat datang dan pergi.

Ada kegembiraan yang lebih dalam: kegembiraan ketika hati menemukan kebenaran.

Pemazmur tidak berkata bahwa ia telah memiliki segala sesuatu. Ia berkata bahwa ia memilih jalan kebenaran. Kegembiraan hati lahir dari pilihan untuk berjalan bersama Sabda Tuhan.

“Untuk selama-lamanya, ya TUHAN, firman-Mu tetap teguh di sorga.”
“Kesetiaan-Mu dari keturunan ke keturunan; Engkau menegakkan bumi, sehingga tetap ada.”

— Mazmur 119:89–90

Sabda Tuhan tidak berubah mengikuti suasana hati manusia.

Kierkegaard mengingatkan bahwa manusia berdiri sebagai pribadi di hadapan Allah. Iman bukan sekadar mengetahui sesuatu tentang Allah, tetapi berani menempatkan seluruh keberadaan diri di hadapan-Nya.

Karena itu, kegembiraan hati bukan terutama perasaan bahwa semuanya berjalan sesuai keinginan kita.

Kegembiraan sejati adalah ketika hati berkata:

“Aku berada di hadapan-Mu, Tuhan.”

Gabriel Marcel berbicara tentang harapan sebagai suatu sikap keberadaan yang terbuka kepada misteri. Harapan bukan sekadar optimisme bahwa keadaan akan menjadi lebih baik. Harapan adalah kepercayaan bahwa hidup tidak pernah kehilangan maknanya ketika kita menyerahkan diri kepada Dia yang kita percayai.

Di sanalah hati menemukan kegembiraannya.

Karl Rahner membantu kita melihat manusia sebagai makhluk yang selalu terbuka kepada Misteri Allah. Kedalaman hati manusia tidak dapat dipenuhi oleh sesuatu yang terbatas. Di dalam lubuk terdalam dirinya, manusia merindukan Allah.

Maka kegembiraan hati bukan sekadar memiliki lebih banyak, melainkan menjadi lebih terbuka kepada Allah.

Hati yang terbuka kepada Allah dapat menangis tanpa kehilangan harapan.

Hati itu dapat mengalami kesunyian tanpa merasa ditinggalkan.

Hati itu dapat menghadapi ketidakpastian tanpa kehilangan arah.

Dan hati itu dapat bersukacita bahkan dalam kesederhanaan.

Sebab sumber kegembiraannya bukan keadaan dunia, melainkan kehadiran Tuhan.

“Sabda-Mu adalah rumah bagi hatiku.”

Ketika hati gelisah, Sabda-Mu memberi jalan.

Ketika hati lelah, Sabda-Mu memberi kekuatan.

Ketika hati terluka, Sabda-Mu memberi penghiburan.

Ketika hati kehilangan arah, Sabda-Mu menjadi terang.

Dan ketika hati bersukacita, Sabda-Mu mengajarkannya untuk bersyukur.

DOA

Tuhan,
ajarilah aku memilih jalan kebenaran.

Jauhkanlah dari hatiku segala sesuatu yang membuatku menjauh daripada-Mu.

Berikanlah kepadaku hati yang sederhana,
hati yang mampu mendengarkan,
hati yang mampu menunggu,
hati yang mampu berharap,
dan hati yang mampu bersyukur.

Biarlah kegembiraanku tidak bergantung pada apa yang kumiliki,
tetapi pada kenyataan bahwa Engkau hadir.

Biarlah Sabda-Mu tinggal di dalam hatiku.

Dan ketika aku tidak memahami jalan-Mu,
berikanlah kepadaku keberanian untuk tetap berjalan.

“Sabda-Mu tetap untuk selama-lamanya.”
“Engkau adalah sukacita hatiku.”

Amin.

Maru810
聖体奉仕会
2026年9月23日(水)


MISTERI ALLAH DAN JIWA YANG MERINDU

KATA-KATA HARI INI

INDONESIA

“Jauhkanlah dari padaku jalan dusta dan karuniakanlah kepadaku Taurat-Mu. Aku telah memilih jalan kebenaran; aku menempatkan hukum-hukum-Mu di hadapanku.”

⁠Mazmur 119:29–30

Mazmur 119:29–30 memperlihatkan sebuah pilihan batin. Pemazmur memohon agar Allah menjauhkan jalan dusta dan menuntunnya kepada jalan kebenaran. Iman bukan hanya mengetahui mana yang benar, tetapi memilih untuk berjalan di dalamnya.

Di hadapan Allah, hati manusia selalu berada dalam perjalanan. Ada jalan yang menjauhkan, dan ada jalan yang membawa kita kembali kepada Sabda. Karena itu, doa pemazmur menjadi doa kita: Tuhan, bersihkanlah jalan yang salah dari dalam diriku dan teguhkanlah langkahku di dalam kebenaran-Mu.

Firman bukan sekadar kata yang dibaca. Firman menjadi jalan ketika kita membiarkannya membentuk pilihan, tindakan, dan seluruh hidup kita. Memilih jalan kebenaran berarti menempatkan Sabda Allah di hadapan mata dan hati setiap hari.

聖体奉仕会 2026年9月23日(水)
Maru810


DI BAWAH MATAHARI, MENUJU KRISTUS

🇮🇩 DI BAWAH MATAHARI, MENUJU KRISTUS

Refleksi atas Qohelet 1:2–11

“Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.” (Qohelet 1:2)

Qohelet membawa kita ke hadapan sebuah kenyataan yang sulit dihindari: manusia bekerja, berusaha, mengejar, mengulang, tetapi akhirnya segala sesuatu tampak berlalu. Matahari terbit dan terbenam. Angin berputar. Sungai mengalir ke laut, tetapi laut tidak menjadi penuh. Generasi datang dan pergi, sementara bumi tetap ada.

Karena itu Qohelet berkata: “Tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.” (Qohelet 1:9)

Di sini Kierkegaard membantu kita melihat bahwa manusia tidak dapat menemukan makna hanya dengan berdiri di luar kehidupan. Ia harus berhadapan dengan dirinya sendiri dan mengambil keputusan di hadapan Allah. Gabriel Marcel mengingatkan bahwa hidup manusia bukan sekadar masalah yang harus dipecahkan, melainkan misteri yang harus dihayati dalam harapan dan kehadiran. Karl Rahner membantu kita menyadari bahwa di kedalaman pengalaman manusia selalu ada keterarahan kepada Misteri Allah yang melampaui kita.

Namun ketiga pemikir itu bukan pusat jawaban. Pusatnya adalah Kristus.

Ketika manusia merasa haus di tengah pengulangan hidup, Yesus berkata: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum.” (Yohanes 7:37)

Qohelet berbicara tentang air yang terus mengalir menuju laut. Kristus datang sebagai Air Hidup. “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi; tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya.” (Yohanes 4:13–14)

Qohelet melihat keterbatasan manusia “di bawah matahari”. Kristus datang sebagai “Terang dunia” (Yohanes 8:12). Ia tidak melarikan manusia dari dunia, tetapi masuk ke dalam sejarah manusia. Firman menjadi manusia dan diam di antara kita (Yohanes 1:14).

Karena itu, “tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari” bukanlah kata terakhir bagi orang yang menemukan Kristus. Di dalam Kristus, kehidupan menerima arah baru. Ia berkata: “Ikutlah Aku.” (Matius 9:9)

Kristus masuk ke dalam kefanaan manusia. Ia memikul salib, mati, dan bangkit. Di dalam kebangkitan-Nya, siklus kematian tidak lagi menjadi horizon terakhir. “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” (Ibrani 13:8)

Maka perjalanan kita bukan sekadar berputar “di bawah matahari”. Kita dipanggil berjalan menuju Kristus: Jalan, Kebenaran dan Hidup (Yohanes 14:6).

DOA: AIR HIDUP

Tuhan Yesus, ketika hidup terasa berulang, kosong, dan melelahkan, ajarlah aku datang kepada-Mu. Ketika hatiku haus akan makna, jadilah Air Hidup bagiku. Ketika aku berjalan dalam kegelapan, jadilah Terang bagiku. Dan ketika aku takut menghadapi kefanaan, tuntunlah aku kepada salib dan kebangkitan-Mu.

Engkau berkata: “Datanglah kepada-Ku dan minum.” Aku datang, Tuhan. Jadikan hidupku tempat mengalirnya kasih, iman, harapan, dan tindakan bagi sesama.


GEREJA YANG BERJALAN BERSAMA

INDONESIA

Saudara-saudari terkasih,
Hari ini kita melihat kembali pengalaman kita sebagai Gereja di Akita: 信徒大会 — Pertemuan Umat, dan 国際ミサ — Misa Internasional.
Keduanya bukan hanya kegiatan Gereja. Keduanya menjadi kesempatan bagi kita untuk mengalami apa yang disebut dalam perjalanan sinodal Gereja: ともに歩む — berjalan bersama.

Mazmur 25 berkata:
“Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya Tuhan, tunjukkanlah jalan-Mu kepadaku. Bimbinglah aku dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku.”

Berjalan bersama dimulai dengan kesediaan untuk mendengarkan jalan Tuhan.

Dalam Injil Matius 21:28–32, Yesus berbicara tentang dua orang anak. Yang pertama mengatakan tidak, tetapi kemudian pergi bekerja. Yang kedua mengatakan ya, tetapi tidak pergi.

Di sini Yesus mengingatkan kita bahwa iman bukan hanya soal kata-kata, tetapi tentang langkah nyata.

Kita dapat mengatakan bahwa kita ingin berjalan bersama. Tetapi pertanyaannya adalah: Apakah kita sungguh berjalan bersama?

Hari Migran dan Pengungsi Sedunia juga mengingatkan kita bahwa Gereja tidak hanya terdiri dari mereka yang sudah lama berada di suatu tempat. Gereja juga hadir bagi mereka yang datang, berpindah, mencari tempat baru, atau bahkan merasa sebagai orang asing.

Karena itu, berjalan bersama berarti membuka hati kepada orang yang berbeda dari kita.

Gabriel Marcel mengingatkan kita bahwa manusia bukan sekadar “masalah” yang harus diselesaikan. Manusia adalah pribadi, seseorang yang harus kita jumpai dan hadir bersamanya.

Karl Rahner berbicara tentang Allah yang hadir dalam kedalaman kehidupan manusia. Karena itu, ketika kita bertemu dengan manusia lain, kita juga dapat menemukan jejak kehadiran Allah.

Dan Kierkegaard mengingatkan kita bahwa pada akhirnya setiap manusia berdiri secara pribadi di hadapan Allah. Kita masing-masing harus mengambil langkah iman kita sendiri.

Misa Internasional memperlihatkan hal itu dengan sangat indah.

Kita datang dari berbagai bahasa, budaya, bangsa dan pengalaman. Tetapi kita berdiri di hadapan Allah yang sama.

Maka pertanyaannya bukan hanya:
“Siapa yang berjalan bersama saya?”
Tetapi juga:
“Dengan siapa saya dipanggil untuk berjalan?”

Siapakah yang belum kita dengarkan?
Siapakah yang merasa tidak mempunyai tempat?
Siapakah yang sedang berjalan sendirian?

Gereja yang berjalan bersama bukan Gereja yang semua orangnya sama. Gereja adalah komunitas yang belajar berjalan bersama dalam perbedaan.

Di Akita, di Jepang, bersama para pendatang, para migran dan pengungsi, bersama mereka yang telah lama menjadi umat dan mereka yang baru datang, marilah kita belajar kembali:
ともに歩む — berjalan bersama.

Bukan hanya mengatakan “ya”, tetapi sungguh melangkah.

Semoga Tuhan menunjukkan jalan-Nya kepada kita, membimbing kita dalam kebenaran-Nya, dan mengajar kita untuk berjalan bersama.
Amin.


CHRONOS DAN KAIROS

INDONESIA — CHRONOS DAN KAIROS

Ada waktu yang kita ukur dengan jam, hari, dan tahun. Dalam bahasa Yunani, chronos menunjuk pada waktu yang berjalan; sedangkan kairos menunjuk pada saat yang tepat, saat yang memiliki makna dan membuka kemungkinan bagi manusia untuk menjawab panggilan Allah.

Yesus berkata:

“Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”
— Markus 1:15

“Waktunya telah genap” adalah sebuah kairos. Waktu bukan lagi sekadar sesuatu yang berlalu. Waktu menjadi tempat perjumpaan antara manusia dan Allah.

Kierkegaard melihat kehidupan manusia sebagai suatu “saat” keputusan, ketika seseorang tidak dapat terus bersembunyi di balik kerumunan atau sekadar mengikuti orang lain. Di hadapan Allah, manusia dipanggil untuk menjadi dirinya sendiri dan mengambil keputusan dalam iman. Kairos dengan demikian bukan terutama soal banyaknya waktu, melainkan tentang jawaban pribadi di hadapan Allah.

Gabriel Marcel memperdalamnya melalui pengalaman kehadiran dan harapan. Kehadiran seorang pribadi tidak dapat diperlakukan seperti sebuah benda yang dapat kita kuasai. Demikian pula kairos: kita tidak dapat memaksa atau memiliki saat Allah. Kita hanya dapat menerima, hadir, dan membuka diri terhadap misteri yang datang kepada kita.

Karl Rahner, dalam teologi tentang rahmat, membantu kita melihat bahwa manusia hidup terus-menerus di hadapan misteri Allah. Rahmat Allah tidak selalu datang melalui peristiwa yang luar biasa. Dalam kehidupan sehari-hari pun manusia dapat menemukan dirinya disentuh oleh suatu panggilan yang lebih dalam. Di situlah chronos dapat menjadi kairos.

Mazmur berdoa:

“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”
— Mazmur 90:12

Menghitung hari berarti belajar menerima waktu sebagai pemberian. Setiap hari membawa kemungkinan untuk mendengar, bertobat, mengampuni, mengasihi, dan kembali kepada Allah.

Karena itu Yesus berkata:

“Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.”
— Matius 25:13

Berjaga-jaga berarti hidup dalam perhatian. Bukan kecemasan, melainkan kesadaran bahwa Allah dapat menjumpai manusia dalam saat yang sederhana.

Kierkegaard mengingatkan kita akan keputusan iman. Marcel mengingatkan kita akan kehadiran dan harapan. Rahner mengarahkan kita kepada misteri Allah yang hadir dalam kedalaman kehidupan manusia.

Ketiganya membantu kita memahami kairos, tetapi pusatnya tetap Kristus.

“Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!”
— Mazmur 118:24

Hari yang berlalu adalah chronos.
Hari yang diterima dalam iman dapat menjadi kairos.

Dan mungkin doa kita sederhana:

Tuhan, ajarlah aku mengenali saat-Mu.
Bukalah mataku ketika Engkau datang,
bukalah telingaku ketika Engkau berbicara,
dan berilah aku keberanian untuk menjawab.


🇯🇵 今日の一言 · 日本語

わたしに従いなさい

「わたしに従いなさい。」(マタイ9章9節)

たった二つの言葉です。しかしマタイにとって、この言葉は人生の方向をすべて変えるものとなりました。イエスはマタイのところに来て、彼を見つめ、招かれました。そしてマタイは立ち上がり、イエスに従いました。

人生の変化の中心にあるのは、まず人間の力ではなく、先に来てくださるキリストです。恵みが先にあります。招きが先にあります。そして人間は自由をもって応答します。

キルケゴールは、人間が神の前で決断するとき、本当の自分へと歩み始めることを示しました。カール・ラーナーは、神の恵みが人間の応答に先立っていることを深く考えました。だからこそ、キリストの招きは、立ち上がり、歩み出すための招きなのです。

私たちも、それぞれの「徴税人の席」に座り続けているかもしれません。執着、恐れ、野心、過去、そして慣れ親しんだ安心。しかしキリストは、まず「完全になりなさい」とは言われません。ただ、

「わたしに従いなさい。」

今日、その言葉を聴きましょう。立ち上がりましょう。そして、主に従いましょう。

Per Mariam ad Iesum.

2026年9月21日
Maru810


心の喜び

今日の一言

心の喜び

神の御言葉のうちに喜びを見いだすとき

「偽りの道をわたしから遠ざけ、あなたの律法を恵み深く教えてください。」
「わたしは真実の道を選び、あなたの裁きを目の前に置きました。」

— 詩編119編29–30節

人の心は、いつも自分の住む場所を探しています。

成功の中に、評価の中に、財産の中に、人との関係の中に、また、生活を心地よくしてくれるさまざまなものの中に、喜びを求めることがあります。しかし、そのような喜びは、来ては去っていきます。

もっと深い喜びがあります。それは、心が真理を見いだしたときに生まれる喜びです。

詩編作者は、すべてを手に入れたとは言いません。彼は、「真実の道を選んだ」と言います。心の喜びは、神の御言葉とともに歩むことを選ぶところから始まります。

「主よ、あなたの御言葉は、とこしえに天に固く立っています。」
「あなたの真実は代々に及び、あなたが据えられた地は、堅く立っています。」

— 詩編119編89–90節

神の御言葉は、人間の気分によって変わることはありません。

キルケゴールは、人間が一人の人格として神の前に立つことを思い起こさせます。信仰とは、ただ神について何かを知ることではありません。自分の存在そのものを、神の前に置く勇気です。

だから、心の喜びとは、すべてが自分の願いどおりになることではありません。

真の喜びとは、心の中でこう言えることです。

「主よ、私はあなたの前にいます。」

ガブリエル・マルセルは、希望を「神秘」に開かれた存在の姿勢として語りました。希望とは、単なる楽観主義ではありません。状況が必ず良くなると考えることだけでもありません。希望とは、自分が信頼する方に自分自身を委ねるとき、人生は決して意味を失わないと信じることです。

そこに、心の喜びがあります。

カール・ラーナーは、人間を神の「神秘」に向かって開かれている存在として捉えました。人間の心の最も深いところは、有限なものだけでは満たされません。人間の存在の奥深くには、神への憧れがあります。

だから、心の喜びとは、単に「もっと多くを持つこと」ではなく、「神に向かって、もっと開かれた者となること」なのです。

神に開かれた心は、希望を失わずに涙を流すことができます。

孤独の中にあっても、見捨てられたとは思いません。

不確かさの中にあっても、道を失いません。

そして、素朴な生活の中でも喜ぶことができます。

なぜなら、その喜びの源は、この世界の状況ではなく、神の臨在だからです。

「あなたの御言葉は、私の心の住まいです。」

心が落ち着かないとき、御言葉は道を示してくださいます。

心が疲れたとき、御言葉は力を与えてくださいます。

心が傷ついたとき、御言葉は慰めとなります。

心が道を失ったとき、御言葉は光となります。

そして、心が喜びに満たされたとき、御言葉は感謝することを教えてくださいます。

祈り

主よ、
真実の道を選ぶことを教えてください。

あなたから私を遠ざけるものを、私の心から取り除いてください。

聴くことのできる心を、
待つことのできる心を、
希望することのできる心を、
感謝することのできる心を、
私にお与えください。

私の喜びが、私の持っているものによるのではなく、
あなたが共にいてくださるという真実によるものでありますように。

あなたの御言葉を、私の心のうちに住まわせてください。

そして、あなたの道を理解できないときにも、
歩み続ける勇気をお与えください。

「あなたの御言葉は、とこしえに残ります。」
「あなたこそ、私の心の喜びです。」

アーメン。

Maru810
聖体奉仕会
2026年9月23日(水)


DI BAWAH MATAHARI, MENUJU KRISTUS · 太陽の下から、キリストへ

🇯🇵 太陽の下から、キリストへ

コヘレトの言葉 1章2–11節についての黙想

「空の空、なんという空しさ。すべては空しい。」(コヘレトの言葉 1:2)

コヘレトは、私たちが避けることのできない現実の前に立たせます。人は働き、努力し、求め、繰り返します。しかし最後には、すべてが過ぎ去っていくように見えます。太陽は昇って沈み、風は巡り、川は海へ流れても海は満ちません。世代は来ては去りますが、大地は変わりません。

だからコヘレトは言います。「太陽の下、新しいものは何もない。」(1:9)

ここでキルケゴールは、人生の意味を外側から眺めるだけでは見いだせないことを示してくれます。人は自分自身と向き合い、神の前で決断しなければなりません。ガブリエル・マルセルは、人間の生を単なる「解決すべき問題」ではなく、希望と出会いの中で生きる「神秘」として捉えます。カール・ラーナーは、人間の最も深い経験の中には、私たちを超える神の神秘へ向かう方向性があることを示します。

しかし、これらの思想家が答えの中心なのではありません。中心はキリストです。

人生の繰り返しの中で人が渇きを覚えるとき、イエスは言われます。「渇いている人は、わたしのところに来て飲みなさい。」(ヨハネ 7:37)

コヘレトは、海へ流れ続ける水について語ります。キリストは生ける水として来られました。「この水を飲む者はまた渇く。しかし、わたしが与える水を飲む者は決して渇かない。」(ヨハネ 4:13–14)

コヘレトが「太陽の下」の人間の限界を見るのに対して、キリストは「世の光」として来られます。(ヨハネ 8:12)みことばは人となり、私たちの間に宿りました。(ヨハネ 1:14)

だから、「太陽の下、新しいものは何もない」という言葉が、キリストを見いだした人にとって最後の言葉ではありません。キリストにおいて、人生は新しい方向を受けます。主は言われます。「わたしに従いなさい。」(マタイ 9:9)

キリストは人間の有限性の中に入り、十字架を担い、死に、そして復活されました。復活によって、死の循環は最後の地平ではなくなりました。「イエス・キリストは、きのうも今日も、また永遠に変わることがありません。」(ヘブライ 13:8)

だから私たちの歩みは、ただ「太陽の下」を巡るだけではありません。道、真理、いのちであるキリストへ向かって歩むよう招かれています。(ヨハネ 14:6)

祈り:生ける水

主イエスよ、人生が繰り返し、空しく、疲れるものに感じられるとき、あなたのもとへ来ることを教えてください。心が意味を渇望するとき、私の生ける水となってください。暗闇を歩くとき、私の光となってください。有限性を恐れるとき、あなたの十字架と復活へ導いてください。

あなたは言われます。「わたしのところに来て飲みなさい。」主よ、私はあなたのもとへ来ます。私の人生を、隣人のために愛と信仰と希望と行動が流れ出る場所としてください。


GEREJA YANG BERJALAN BERSAMA · 信徒大会・国際ミサ・世界難民移住移動者の日

日本語

今日は、秋田地区の教会における私たちの経験、すなわち 信徒大会 と 国際ミサ を、もう一度振り返ってみたいと思います。

この二つは、単なる教会の行事ではありません。
それは、シノドスの教会が大切にしている言葉、
「ともに歩む」
ということを、私たち自身が体験する機会でもあります。

詩編25編はこう祈ります。
「主よ、あなたの道をわたしに示し、あなたの道筋を教えてください。あなたの真理に導き、教えてください。」

ともに歩むことは、まず、主の道に耳を傾けることから始まります。

マタイによる福音書21章28–32節で、イエスは二人の息子について語られます。
一人は「行きません」と答えました。しかし、後になって出かけて行きました。
もう一人は「行きます」と答えました。しかし、実際には行きませんでした。

ここでイエスは、信仰とは単なる言葉ではなく、具体的な一歩であることを教えてくださいます。

私たちは「ともに歩みたい」と言うことができます。
しかし、問われているのは、
「私たちは本当にともに歩んでいるだろうか」
ということです。

また、世界難民移住移動者の日は、教会とは、長い間その土地に住んできた人々だけの共同体ではないことを思い出させてくれます。
教会は、新しく来る人、移動する人、新しい場所を求める人、そして自分を「よそ者」と感じている人々とともにあります。

だからこそ、ともに歩むとは、自分とは異なる人に心を開くことでもあります。

ガブリエル・マルセルは、人間を単なる「解決すべき問題」としてではなく、一人の人格として出会うことの大切さを語りました。

カール・ラーナーは、神が人間の人生の深みにおいて現存しておられることを語りました。
ですから、私たちが一人の人と出会うとき、その人の中にも神の存在のしるしを見いだすことができます。

そしてキルケゴールは、最後には一人ひとりが神の前に立つ存在であることを思い起こさせます。
それぞれが、自分自身の信仰の一歩を踏み出さなければなりません。

国際ミサは、そのことを美しく表しています。

私たちは、さまざまな言葉、文化、国、そして人生の経験を持っています。
しかし、私たちは皆、同じ神の前に立っています。

だから、問われているのは、
「誰が私とともに歩いているのか」
だけではありません。
むしろ、
「私は誰とともに歩くように招かれているのか」
ということです。

まだ私たちが聞いていない声は誰でしょうか。
自分には居場所がないと感じている人は誰でしょうか。
一人で歩いている人は誰でしょうか。

ともに歩む教会とは、皆が同じになる教会ではありません。
違いを持ったまま、互いにともに歩むことを学ぶ共同体です。

ここ秋田で、日本で、移住者や難民とともに、長年教会にいる人々とともに、そして新しく来た人々とともに、私たちはもう一度学びたいと思います。
ともに歩む。

ただ「はい」と言うだけではなく、実際に一歩を踏み出すこと。

主が私たちにその道を示し、真理へと導き、ともに歩むことを教えてくださいますように。
アーメン


CHRONOS DAN KAIROS · クロノスとカイロス

日本語 — クロノスとカイロス

私たちには、時間を時計、日、そして年によって測る時間があります。ギリシア語でchronos(クロノス)は流れていく時間を指します。それに対してkairos(カイロス)は、意味を持ち、人間が神の呼びかけに応える可能性を開く、ふさわしい「時」を指します。

イエスは言われました。

「時は満ち、神の国は近づいた。悔い改めて福音を信じなさい。」
— マルコによる福音書 1:15

「時は満ちた」ということは、一つのkairosです。時間は、ただ過ぎ去っていくものではなくなります。時間は、人間と神との出会いの場となります。

キルケゴールは、人間の人生を一つの「決断の瞬間」として見つめました。人は群衆の中に隠れ続けたり、ただ他人に従ったりすることはできません。神の前で、人は自分自身として立ち、信仰の中で決断するように招かれています。したがってkairosとは、時間の長さではなく、神の前での個人的な応答に関わるものです。

ガブリエル・マルセルは、存在の現前と希望という経験を通して、このことを深めます。人格としての人間の存在は、私たちが支配できる物のように扱うことはできません。同じようにkairosも、神の時を私たちが強制したり所有したりすることはできません。私たちにできるのは、受け入れ、そこに居て、私たちのもとに来る神秘に心を開くことです。

カール・ラーナーの恩寵についての神学は、人間が絶えず神の神秘の前に生きていることを見つめる助けとなります。神の恵みは、いつも特別な出来事として現れるとは限りません。日常生活の中でも、人はより深い呼びかけに触れられていることに気づくことがあります。そこに、chronosがkairosとなる可能性があります。

詩編は祈ります。

「生涯の日を正しく数えることを教えてください。知恵ある心を得ることができますように。」
— 詩編 90:12

日々を数えることは、時間を賜物として受け取ることを学ぶことです。一日一日は、聴き、悔い改め、赦し、愛し、そして神に立ち帰る可能性を私たちに与えています。

だからイエスは言われます。

「目を覚ましていなさい。あなたがたは、その日、その時を知らないからである。」
— マタイによる福音書 25:13

目を覚ましているとは、注意深く生きることです。不安ではなく、神がごくありふれた時の中でも私たちに出会われることへの気づきです。

キルケゴールは信仰の決断を思い起こさせます。マルセルは現前と希望を思い起こさせます。ラーナーは、人間の人生の深みにおられる神の神秘へと私たちを導きます。

三人の思想はkairosを理解する助けとなります。しかし、その中心はあくまでキリストです。

「これは主が造られた日。この日を喜び祝い、喜び躍ろう。」
— 詩編 118:24

過ぎていく日はchronosです。
信仰のうちに受け取られた日はkairosとなることができます。

そして、私たちの祈りは簡素でよいのかもしれません。

主よ、あなたの時を知ることができますように。
あなたが来られるとき、私の目を開いてください。
あなたが語られるとき、私の耳を開いてください。
そして、あなたに応える勇気をお与えください。


🇬🇧 WORDS OF THE DAY · ENGLISH

FOLLOW ME

“Follow me.” (Matthew 9:9)

Only two words. Yet for Matthew, these words changed the whole direction of his life. Jesus came to him, saw him, and invited him. Matthew then rose and followed Him.

The center of transformation is not first of all human strength, but Christ who comes first. Grace comes first. The invitation comes first. Then the human person responds in freedom.

Kierkegaard reminds us that a person becomes truly himself when he makes a decision before God. Karl Rahner helps us see that God’s grace precedes the human response. Therefore, Christ’s call is always an invitation to rise and walk.

Perhaps we are still sitting at our own “tax collector’s table”: attachments, fears, ambitions, the past, or comfort. Yet Christ does not first tell us that we must become perfect. He says:

“Follow me.”

Today, listen to those words. Rise. Follow Him.


JOY OF THE HEART

WORDS OF THE DAY

JOY OF THE HEART

When the heart discovers joy in the Word of God

“Put false ways far from me and graciously teach me your law.”
“I have chosen the way of faithfulness; I set your ordinances before me.”

— Psalm 119:29–30

The human heart is always searching for a place to dwell.

It may seek joy in achievement, recognition, possessions, relationships, or in the many things that make life comfortable. Yet such joys can come and go.

There is a deeper joy: the joy that appears when the heart discovers truth.

The Psalmist does not say that he possesses everything. He says that he has chosen the way of faithfulness. The joy of the heart begins with the choice to walk with the Word of God.

“Forever, O LORD, your word is firmly fixed in heaven.”
“Your faithfulness endures to all generations; you have established the earth, and it stands fast.”

— Psalm 119:89–90

The Word of God does not change according to the changing moods of humanity.

Kierkegaard reminds us that the human person stands as a person before God. Faith is not merely knowing something about God. It is daring to place one’s whole existence before Him.

Therefore, the joy of the heart is not primarily the feeling that everything is happening according to our wishes.

True joy is when the heart can say:

“I am here before You, Lord.”

Gabriel Marcel speaks of hope as an openness to mystery. Hope is not merely optimism that circumstances will improve. Hope is trust that life never loses its meaning when we entrust ourselves to the One in whom we believe.

There the heart discovers its joy.

Karl Rahner helps us see the human person as one who is always open to the Mystery of God. The deepest dimension of the human heart cannot be filled by anything finite. At its deepest level, the human person longs for God.

Therefore, the joy of the heart is not simply having more, but becoming more open to God.

A heart open to God can weep without losing hope.

It can experience solitude without believing that it has been abandoned.

It can face uncertainty without losing its direction.

And it can rejoice even in simplicity.

For the source of its joy is not the condition of the world, but the presence of God.

“Your Word is the dwelling place of my heart.”

When my heart is restless, Your Word gives me a path.

When my heart is tired, Your Word gives me strength.

When my heart is wounded, Your Word gives me consolation.

When my heart loses its way, Your Word becomes a light.

And when my heart rejoices, Your Word teaches me to give thanks.

PRAYER

Lord,
teach me to choose the way of faithfulness.

Keep from my heart everything that draws me away from You.

Give me a simple heart,
a heart that can listen,
a heart that can wait,
a heart that can hope,
and a heart that can give thanks.

May my joy not depend upon what I possess,
but upon the truth that You are present.

Let Your Word dwell within my heart.

And when I do not understand Your way,
give me the courage to continue walking.

“Your Word remains forever.”
“You are the joy of my heart.”

Amen.

Maru810
聖体奉仕会
2026年9月23日(水)


UNDER THE SUN, TOWARD CHRIST

🇬🇧 UNDER THE SUN, TOWARD CHRIST

A Reflection on Ecclesiastes 1:2–11

“Vanity of vanities, says the Teacher; all is vanity.” (Ecclesiastes 1:2)

Ecclesiastes brings us before a reality we cannot easily escape: human beings work, strive, seek, repeat, and yet everything seems to pass away. The sun rises and sets. The wind turns and turns. The rivers flow into the sea, yet the sea is not full. One generation comes and another goes, while the earth remains.

Therefore Ecclesiastes says: “There is nothing new under the sun.” (Ecclesiastes 1:9)

Here Kierkegaard helps us see that the meaning of life cannot be found merely by standing outside life and observing it. We must face ourselves and make a decision before God. Gabriel Marcel reminds us that human existence is not merely a problem to be solved, but a mystery to be lived through hope and presence. Karl Rahner helps us recognize that within the depths of human experience there is a movement toward the Mystery of God who transcends us.

Yet these thinkers are not the center of the answer. The center is Christ.

When the human heart becomes thirsty amid the repetition of life, Jesus says: “Let anyone who is thirsty come to me and drink.” (John 7:37)

Ecclesiastes speaks of waters continually flowing toward the sea. Christ comes as Living Water. “Everyone who drinks this water will be thirsty again, but whoever drinks the water I give will never thirst.” (John 4:13–14)

Ecclesiastes sees the limits of human life “under the sun.” Christ comes as “the light of the world.” (John 8:12) The Word became flesh and lived among us. (John 1:14)

Therefore, “there is nothing new under the sun” is not the final word for the person who discovers Christ. In Christ, life receives a new direction. He says: “Follow me.” (Matthew 9:9)

Christ entered human finitude. He carried the cross, died, and rose again. In his resurrection, the cycle of death is no longer the final horizon. “Jesus Christ is the same yesterday and today and forever.” (Hebrews 13:8)

Our journey, then, is not merely a cycle beneath the sun. We are called to walk toward Christ, the Way, the Truth, and the Life. (John 14:6)

PRAYER: LIVING WATER

Lord Jesus, when life feels repetitive, empty, and tiring, teach me to come to you. When my heart thirsts for meaning, be Living Water for me. When I walk in darkness, be my Light. And when I fear human finitude, lead me to your cross and resurrection.

You say: “Come to me and drink.” I come, Lord. Make my life a place from which love, faith, hope, and action flow toward others.


A CHURCH THAT WALKS TOGETHER

ENGLISH

MARU810 of Noshiro
Dear brothers and sisters,
Today we look again at our experience as the Church here in Akita district: 信徒大会 — the Parishioners’ Assembly, and 国際ミサ — the International Mass.

These are not simply Church activities. They are opportunities for us to experience what the synodal journey of the Church calls ともに歩む — walking together.

Psalm 25 says:
“Make your ways known to me, Lord; teach me your paths. Guide me in your truth and teach me.”

Walking together begins with our willingness to listen to the way of the Lord.

In Matthew 21:28–32, Jesus speaks about two sons. The first says no, but later goes to work. The second says yes, but does not go.

Jesus reminds us that faith is not only about words, but about concrete steps.

We can say that we want to walk together. But the question is:
Do we truly walk together?

The World Day of Migrants and Refugees also reminds us that the Church is not made up only of people who have lived in one place for a long time. The Church is also present among those who arrive, move from one place to another, search for a new home, or feel like strangers.

Therefore, walking together means opening our hearts to people who are different from us.

Gabriel Marcel reminds us that a human being is not simply a “problem” to be solved. A human being is a person, someone whom we are called to encounter and with whom we are called to be present.

Karl Rahner speaks of God being present in the depth of human life. Therefore, when we encounter another person, we can also discover traces of God’s presence.

And Kierkegaard reminds us that, in the end, every human being stands personally before God. Each of us must take our own step of faith.

The International Mass shows this beautifully.

We come from different languages, cultures, nations and experiences. Yet we stand before the same God.

So the question is not only:
“Who walks with me?”
but also:
“With whom am I called to walk?”

Whose voice have we not yet heard?
Who feels that there is no place for them?
Who is walking alone?

A Church that walks together is not a Church where everyone is the same. It is a community that learns to walk together in our differences.

Here in Akita, in Japan, together with migrants and refugees, with those who have been parishioners for many years and those who have just arrived, let us learn again:
ともに歩む — to walk together.

Not merely to say “yes,” but truly to take the step.

May the Lord show us His ways, guide us in His truth, and teach us how to walk together.
Amen.


CHRONOS AND KAIROS

ENGLISH — CHRONOS AND KAIROS

There is a kind of time that we measure by hours, days, and years. In Greek, chronos refers to time as it passes; while kairos refers to the right or opportune moment, a moment filled with meaning and opening a possibility for the human person to respond to God’s call.

Jesus said:

“The time is fulfilled, and the kingdom of God has come near; repent, and believe in the good news!”
— Mark 1:15

“The time is fulfilled” is a kairos. Time is no longer merely something that passes. Time becomes a place of encounter between the human person and God.

Kierkegaard sees human life as a “moment” of decision, when a person can no longer hide behind the crowd or simply follow others. Before God, the human person is called to become oneself and to make a decision in faith. Kairos, therefore, is not primarily about the amount of time, but about a personal response before God.

Gabriel Marcel deepens this through the experience of presence and hope. The presence of another person cannot be treated like an object that we can possess or control. Likewise, we cannot force or possess God’s moment. We can only receive, be present, and open ourselves to the mystery that comes to us.

Karl Rahner, through his theology of grace, helps us see that the human person lives continually before the mystery of God. God’s grace does not always come through extraordinary events. In ordinary life, too, a person may discover that he or she is touched by a deeper call. There, chronos can become kairos.

The Psalmist prays:

“Teach us to number our days, that we may gain a wise heart.”
— Psalm 90:12

To number our days means learning to receive time as a gift. Each day brings the possibility of listening, repenting, forgiving, loving, and returning to God.

Therefore Jesus says:

“Keep awake therefore, for you know neither the day nor the hour.”
— Matthew 25:13

To keep awake means to live attentively. Not with anxiety, but with the awareness that God can meet the human person in an ordinary moment.

Kierkegaard reminds us of the decision of faith. Marcel reminds us of presence and hope. Rahner directs us toward the mystery of God present in the depths of human life.

All three help us understand kairos, but the center remains Christ.

“This is the day that the LORD has made; let us rejoice and be glad in it.”
— Psalm 118:24

The passing day is chronos.
The day received in faith can become kairos.

And perhaps our prayer can be simple:

Lord, teach me to recognize your time.
Open my eyes when you come,
open my ears when you speak,
and give me the courage to respond.

LivingWater 810

2026年9月30日